Info Lain

Senin, 10 Agustus 2015

BABAD KI AGENG MANGIR


BABAD KI AGENG MANGIR

Details

Babad Ki Ageng Mangir

Kraton Mataram menjadi kekuatan yang dominan dan sentralistik di tanah Jawa. Para penguasa pesisir Bang Wetan dan Bang Kulon harus tunduk kepada hegemoni politik Dinasti Panembahan Senopati. Konsolidasi kekuasaan Mataram tiba-tiba mengalami hambatan yang sangat berarti, ketika muncul gerakan politik yang dipimpin oleh Ki Ageng Mangir. Bersama dengan sekutu pendukungnya, Ki Ageng Mangir tak sudi tunduk pada hegemoni raja Mataram, Panembahan Senopati. Kriwikan dadi grojogan, perkara sepele dadi gawe, pemberontakan dalam skup kecil-kecilan pun menular dan menjalar ke daerah lain.
Para bupati dari Pati, Jepara, Kudus, Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Blambangan, Lumajang, Probolinggo, Kediri, Ponorogo dan Madiun melakukan perlawanan terhadap pemerintah pusat Kerajaan Mataram. Panembahan Senopati beserta jajarannya segera melakukan strategi untuk mengatasi gerakan separatis itu. Disadari penuh oleh segenap aparat Mataram bahwa Ki Ageng Mangir adalah tokoh yang sakti mandraguna. Dia mempunyai pusaka ampuh, yaitu Kyai Baru Klinthing. Lagipula dari segi genetika, ia masih keturunan Prabu Brawijaya, raja Majapahit. Tak mengherankan bila Ki Ageng Mangir cukup berpengaruh di kalangan bangsawan pesisir dan tlatah Brang Wetan.
Dengan menggunakan pendekatan intelijen yang cukup canggih, maka ditemukan metode jebakan. Putri Panembahan Senopati yang bernama Putri Rara Pembayun sebagai umpannya. Operasi pemulihan keamanan pun dilakukan. Sudah menjadi suratan takdir bahwa Rara Pembayun akhirnya dipersunting oleh Ki Ageng Mangir sebagai garwa prameswari. Di sini muncul dilema di antara kedua belah pihak. Di mata Panembahan Senopati dan pejabat Mataram, Ki Ageng Mangir telah menjadi fakta: sebagai mantu dan sebagai musuh. Perang batin itu berakhir setelah Ki Ageng Mangir gugur karena kepalanya dibenturkan oleh Panembahan Senopati di atas watu gilang. Jenazah Ki Ageng Mangir dikubur dengan setengah keikhlasan dan setengah kebencian. Demikianlah kisah asmara Ki Ageng Mangir dengan Rara Pembayun yang diwarnai dengan ambisi dan tragedi kekuasaan.
Isi : 312 Halaman
Penulis : Dr. Purwadi M.Hum

Informasi Harga

Daftar Ebook Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar